1.Identitas
Buku
Judul : Diskursus
Munasabah Al-Quran dalam tafsir
Al-Misbah
Penulis : DR. Hasani ahmad Said, M.A.
Penulis : DR. Hasani ahmad Said, M.A.
Penerbit : AMZAH
Editor : Nur Laily Nusroh, Abdul Manaf
Desaign Cover : Diah Purnamasari
Cetakan : Pertama, April 2015
Layouter : Pawit
Suhardi
Tebal :
294 hlm ; 23 cm
ISBN :
978-602-8689-95-3
Jumlah halaman : xxxii+294 hlm. ; 23 cm
Tanggal terbit : Cetakan Pertama, April 2015
Ukuran Buku : 22,8 cm X 15,5 cm
Tanggal terbit : Cetakan Pertama, April 2015
Ukuran Buku : 22,8 cm X 15,5 cm
Resensator : Agung
Faizal
Al-Qur’an merupakan kalam Allah yang diturunkan kepada Muhammad
SAW sekaligus mukjizat yang berfungsi sebagai kitab hidayah atau kitab petunjuk
bagi manusia. Al-Qur’an merupan kitab suci umat Islam yang relevan sehingga
banyak bermunculan cabang-cabang ilmu dan spesalis yang memumpuni.
buku yang berjudul “Diskursus Munasabah
Al-Qur’an dalam Tafsir Al-Misbah yang ditulis oleh Dr.Hasani Ahmad Said, M.A.
merupakan salah satu cabang ilmu dan
memiliki kompetensi dibidang Munasabah Al-Qur’an yang ,tentu saya menyambut gembira
atas peluncuran buku ini. Kehadiran kajian dalam buku ini yang berasal dari
disertasi Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Tentu sangat
membantu para mahasiswa dan para pembaca untuk memahami teks Al-Qur’an karena
Al-Qur’an sebagai jalan hidup (way of life) seluruh umat muslim
diseluruh penjuru dunia.
Salah
satu cabang studi “ulumul Al-Qur’an” yang penting untuk diungkapkan adalah
kajian munasabah. penting untuk diketahui dalam rangka menjadikan keseluruhan
ayat Al-Qur’an sebagai satu kesatuan yang utuh dan memiliki keserasian sebagai mana yang tampak dalam buku yang
dikarang oleh Dr.Hasani Ahmad,M.A ini ayat-ayat al-quran yang berkorelasi
saling menjelaskan satu sama lain.
Disini
pembaca dapat memahami ilmu munasabah dalam Al-Qur’an adalah ilmu yang
menerangkan korelasi atau hubungan antara surah dan ayat yang lain. keserasian
tersebut bisa bersifat am dan khash, penalaran (aqli),
pancaindra (hassy), atau kemestian dalam pikiran (al-talazhzhum
al-dhini). Selain itu korelasi tersebut bisa juga berupa sebab akibat,’illah
dan ma’lul hal yang serupa, atau dua hal yang berlainan.
Jika
ingin mencari makna tersirat dalam susunan kalimat, ayat, atau surah dalam
al-qur’an kita dapat menemukan didalam buku yang ditulis oleh doktor terbaik,
tercepat, serta termuda pada Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah tahun
2011 ini. Dengan demikian, bagian-bagian Alqur’an akan tampak saling berhubungan
antara satu dengan yang lainnya, dan menjadi rangkaian yang utuh sehingga
mempermudah pemahaman Al-Qur’an, memperkuat akan kebenaran Al-Qur’an sebagai
wahyu Allah yang diturunkan melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad, dan
menolak tuduhan bahwasanya susunan Alqur’an itu kacau balau.
Sebagai
mana kita ketahui bahwa ada kisah yang terdapat dalam Alqur’an tidak
diceritakan secara runtut kecuali pada kisah Nabi Yusuf as. Kisah didalam
Alqur’an tidak diceritakan secara terperinci karena umat manusia dituntut untuk
memikirkan dan mempelajari hikmah yang dapat diambil dari cerita- cerita
tersebut. Inilah satu indikator bahwa Alqur’an mengajak pembacanya menjadi
dewasa, walau hanya ungkapan yang ringkas, tetapi mengandung makna yang dalam.
Perhatian
ulama terhadap Alqur’an tidak terhenti sampai pada segi kemu’jizatan, tetapi
beralih kepada hal yang lain, yaitu hubungan antara satu segi dalam alqur’an
dan segi lainnya. Menurut jumhur ulama, susunan ayat dan surah dalam Alqur’an
adalah tauqīfi. Dengan demikian, dibalik susunan Al-qur’an, baik ayat
maupun surah, terdapat hubungan atau korelasi. Alqur’an laksana sebuah bangunan
yang antara satu bagian dan bagian lainnya terdapat keserasian yang demikian
kokoh dan indah.
Harus
diakui bahwa munasabah dalam Alqur’an tidak ada penjelasannya dari nabi dan
para sahabat. Oleh karena itu, ilmu munasabah dikategorikan sebagai ilmu yang
tidak wajib dipelajari. Jika munasabah wajib dipelajari, harus ada penjelasan
dari nabi. Disisi lain, menurut saya, mempelajari munasabah dalam Alqur’an
adalah sesuatu yang penting dan proses pencariannya menurut konsentrasi.
Selain
itu mempelajari ilmu munasabah Alqur’an ini merupakan suatu kebahagian dan
kepuasan tersendiri ketika menjumpai adanya munasabah yang signifikan. Melalui
ilmu munasabah bisa diketahui mu’jizat Alqur’an. Disamping itu, mengetahui
munasabah juga bisa memahami inti persoalan yang ada pada satu ayat atau
kelompok ayat.
Jikalau
kita melihat, menilai, serta menganalilisis karya M.Quraish Shihab, tentu
tidaklah mudah karena sang tokoh masih hidup. Hal itu juga yang membuat
pemikiran yang tertuang dalam berbagai taburan dari karyanya bisa jadi masih
memungkinkan untuk berubah; terutama pada masa-masa awal, pertengahan, hingga
menjelang akhir hayatnya sesuai dengan kebutuhan, tuntunan, dan perkembangan
zaman serta laju pemikiran seseorang.
Seperti yang telah kita ketahui sebelumnya dilihat dari orientasi penafsirannya, tafsir dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu tafsir al-riwāyah, tafsir al-dirāyah, dan tafsir al-isyārah. Ketiga pendekatan tafsir ini timbul
Seperti yang telah kita ketahui sebelumnya dilihat dari orientasi penafsirannya, tafsir dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu tafsir al-riwāyah, tafsir al-dirāyah, dan tafsir al-isyārah. Ketiga pendekatan tafsir ini timbul
dan
berkeseiring dengan kebutuhan umat dan tuntunan zaman. Secara selintas, tafsir
dengan menggunakan pendekatan al-dirāyah lebih berorieantasi kepada
penalaran yang bersifat ‘aqli (Rasional) dengan menggunakan pendekatan
kebahasaan yang menjadi dasar penjelasannya.
Adapun
untuk mendapatkan gambaran metode dan karakteristik membagi menjadi tiga
bahasan yang digunakan M.Quraish Shihab yaitu mengenal Tafsir Al-Misbah dan
metode penyusunannya; pendekatan (manhaj) tafsir Al-Misbah; serta metode
(Thariqah), corak,dan karakteristik tafsir Al-Misbah.
Penulis menemukan salah satu kelebihan Tafsir Al-Misbah dalam mengurai
munasabah adalah adanya penyesuaian dengan konteks yang Quraish Shihab alami.
Sebagai contoh ketika beliau sedang berada di Mesir, beliau mengaitkan aspek
munasabah dengan social budaya setempat. Begitu pula beliau sedang berada di
Indonesia, aspek munasabah dikaitkan dengan social budaya Indonesia. Disisi
lain, ada banyak ayat atau surah yang tidak bisa dimunasabahkan. Oleh karena
itu, ia merujuk kepada kepada mufassir- mufassir yang sudah ada sebelumnya.
Berdasarkan
uraian yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan bahwa penerapan aspek munasabah
oleh Quraish Shihab tidak jauh berbeda dengan mufassir pada masa sebelumnya,
hanya saja beliau lebih banyak meramu banyak pendapat mufassir lainnya yang
kemudian dikemukakan kembali dengan perspektif yang lebih menarik.
Buku
yang sedang di resensi ini adalah salah satu dari sekian banyak kitab atau buku
yang ditulis tentang ilmu munasabah. Penulisnya adalah Dr.Hasani Ahmad, M.A,
seorang spesialis dalam ilmu munasabah. Karya yang lahir dari disertasinya,
meneliti tentang berbagai munasabah yang ada pada Tafsīr Al-Misbah karya
Prof.Quraish Shihab.
Dari
penjelasan tersebut diatas dapat saya katakan bahwa apa yang telah dikemukakan
oleh Dr.Hasani Ahmad,M.A, setelah melakukan penelitian yang mendalam terhadap
beberapa macam munasabah dalam Tafsīr Al-Misbah adalah satu upaya yang
patut diapresiasi. Apa yang disarankan diusulkan olehnya mudah-mudahan bisa
direspons oleh para peneliti berikutnya sehingga menjadi kajian-kajian yang
saling mendukung.
Bagaimana
pun, ilmu Munasabah adalah suatu ilmu yang bersifat ijtihadi, dengan demikian,
sangat mungkin terjadi perbedaan antara satu orang dengan yang lainnya dalam
menguraikannya. Akan tetapi, perbedaan tersebut masih dapat ditoleransi selama
masih di kategorikan ma’qūl atau rasional.
Ada
beberapa munasabah yang kiranya perlu diberikan perhatian secara khusus, yaitu
munasabah antara awal ayat yang diakhiri dengan nama -nama sifat Allah. Begitu
juga munasabah antara qasam atau sumpah-sumpah didalam Alqur’an dengan muqsam
‘alaih atau jawāb qasam.
Buku
yang tulis oleh Dr. Hasani Ahmad Said, M.A ini tentu menjadi kontribusi besar
yang baik bagi masyarakat secara luas. Buku ini juga baik dibaca utuk semua
kalangan, baik santri, ilmuan, peneliti, akademisi, maupun pengkaji Islam
disemua penjuru.
Dan
hingga sekarang beliau telah banyak menerbitkan buku, salah satu buku yang
diterbitkan beliau adalah “Diskursus Munasabah Al-Qur’a dalam Tafsir Al-
Misbah” yang saat ini dipakai sebagai acuan atau standarisasi pembelajaran mata
kuliah Membahas Kitab Tafsir.
Untuk kelebihandan kekurangan buku
ini dapat kita lihat sebagai berikut:
Untuk kelebihan adalah mencantumkan
refrensi tepercaya, serta pendapat tokoh- tokoh yang beliau kutip dari berbagai
sumber .
Buku ini juga mengandung banyak aspek yang
sangat membantu dalam memahami materi yang disampaikan penulis dalam
pembahasannya, sebagai contoh buku ini memberikan pedoman transliterasi, daftar
pustaka, catatan kaki, indeks, biografi penulis dan penutup yang berupa
kesimpulan. Buku ini juga di lengkapi footnote yang jelas dan lengkap sesuai
sumbernya.
Dari
segi penyajian, buku ini disajikan secara sistematis dan logis, sudah jelas
bahwa penulis menyajikannya dengan paragraf yang sangat argumentatif sehingga
penjelasannya cukup bisa meyakinkan para pembacanya. Penulis juga mencantumkan daftar
pustaka yang kompleks yang memudahkan pembaca.







0 komentar:
Posting Komentar